Powered By Blogger

Rabu, 19 Oktober 2011

Kupu-Kupu

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Dia duduk dan mengamati selama beberapa jam kupu-kupu dalam kepompong itu ketika dia berjuang memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian sang kupu-kupu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.
Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh yang gembung dan kecil, serta sayap-sayap yang mengerut. Orang tersebut terus mengamatinya, karena dia berharap bahwa pada suatu saat, sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya. Sayang, semuanya tak pernah terjadi.
Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil tersebut adalah cara Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya. Sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.
Kadang, perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin malah melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang.
Saya memohon kekuatan, dan Tuhan memberi saya kesulitan-kesulitan untuk membuat saya kuat.
Saya memohon kebijakan, dan Tuhan memberi saya persoalan untuk diselesaikan.
Saya memohon kemakmuran, dan Tuhan memberi saya otak dan tenaga untuk bekerja.
Saya memohon keteguhan hati, dan Tuhan memberi saya bahaya untuk diatasi.
Saya memohon cinta, dan Tuhan memberi saya orang-orang bermasalah untuk ditolong.
Saya memohon kemurahan/kebaikan hati, dan Tuhan memberi saya kesempatan-kesempatan.
Saya tidak memperoleh yang saya inginkan, saya mendapatkan segala yang saya butuhkan. 

Senin, 17 Oktober 2011

Kisah Seorang Abid dan Setan

Imam Ghazali Hujjatul Islam bercerita kepada murid-muridnya: pada masa lalu pernah hidup seorang 'abid (baca: ahli ibadah) yang taat, selalu mengagungkan dan memuji-muji Allah. Suatu hari tatkala sang 'abid tenggelam dengan zikir-zikirnya kepada Allah, datanglah seseorang yang memberitahukannya tentang adanya kemusyrikan yang dilakukan oleh sebagian kaumnya dengan menyembah sebuah pohon besar.

Mendengar hal itu, sang 'abid teramat geram dan bersegeralah ia mengambil sebilah kapak untuk menghancurkan kesyirikan tersebut. Dalam perjalanan mulianya, ia dihalang-halangi oleh setan yang hendak mencegah niat baiknya. Lalu terjadilah baku hantam antara keduanya. Setan kalah dalam duel tersebut. Merasa takkan mampu lagi menghalangi sang 'abid untuk menebang pohon itu, setan merubah siasat dengan merayu sang 'abid.

Setan berkata : "Asalkan engkau tak menebang pohon itu, aku akan menjamin hidupmu dengan meletakkan setiap hari di bawah bantalmu seikat uang." Si 'abid ternyata tergoda dengan bujuk rayu setan dan ingin membuktikan kebenaran pada ucapan setan sehingga ia mengurungkan niatnya untuk menebang pohon itu.

Dalam satu, dua hari setan memenuhi janjinya meletakkan uang yang banyak di bawah bantal si 'abid. Tentu hati sang 'abid senang menerima hal itu. Namun pada hari ketiga, sang 'abid tak menemukan apapun di bawah bantalnya. Membuatnya murka kepada setan yang mengingkari janjinya.

Dengan berbekal sebilah kapak ia bergerak menuju pohon yang beberapa hari sebelumnya urung ditebangnya. Setan kembali menghadangnya. Duel kembali berkecamuk di antara keduanya. Tetapi kali ini setan tampil sebagai jawara.

Mendapati kekalahannya membuat sang 'abid terperangah sehingga membuatnya bertanya kepada setan : "Mengapa hari ini engkau bisa mengalahkan ku?"

"Hari ini keikhlasanmu untuk menebang pohon itu tidak seperti beberapa hari yang lalu. Keikhlasanmu telah hilang. Kini niatmu untuk menebang pohon itu hanya didorong oleh kemarahanmu karena aku tidak meletakkan uang di bawah bantalmu." Demikianlah jawaban setan dengan bangganya.

Wahai Saudaraku, semoga cerita di atas menjadi iktibar bagi kita bahwa sesungguhnya setan atau iblis itu takkan mampu melawan kita apabila setiap amal dan perbuatan kita dilakukan dengan ikhlas. Namun jika ikhlas sudah terkikis dari motivasi dan niat kita, niscaya setan dengan mudah menaklukkan kita. Semoga Allah selalu menjaga hati kita agar senantiasa ikhlas dalam beribadah kepada-Nya. 

Umar II dan Lilin Negara

Siapa yang tak kenal Umar bin Abdul Aziz. Sosok pemimpin adil, arif, lagi berilmu. Banyak kisah teladan yang beliau tinggalkan untuk para peniti kebenaran. Inilah kisah ringkasnya.

Suatu hari datanglah seorang utusan dari salah satu daerah kepada beliau. Utusan itu sampai di depan pintu Umar bin Abdul Aziz dalam keadaan malam menjelang. Setelah mengetuk pintu seorang penjaga menyambutnya. Utusan itu pun mengatakan, ?Beritahu Amirul Mukminin bahwa yang datang adalah utusan gubernurnya.? Penjaga itu masuk untuk memberitahu Umar yang hampir saja berangkat tidur. Umar pun duduk dan berkata, ?Ijinkan dia masuk.?

Utusan itu masuk, dan Umar memerintahkan untuk menyalakan lilin yang besar. Umar bertanya kepada utusan tersebut tentang keadaan penduduk kota, dan kaum muslimin di sana, bagaimana perilaku gubernur, bagaimana harga-harga, bagaimana dengan anak-anak, orang-orang muhajirin dan anshar, para ibnu sabil, orang-orang miskin. Apakah hak mereka sudah ditunaikan?Apakah ada yang mengadukan?
Utusan itu pun menyampaikan segala yang diketahuinya tentang kota kepada Umar bin Abdul aziz. Tak ada sesuatu pun yang disembunyikannya.

Semua pertanyaan Umar dijawab lengkap oleh utusan itu. Ketika Semua pertanyaan Umar telah selesai dijawab semua, utusan itu balik bertanya kepada Umar.

?Ya Amirul Mukminin, bagaimana keadaanmu, dirimu, dan badanmu? Bagaimana keluargamu, seluruh pegawai dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu? Umar pun kemudian dengan serta merta meniup lilin tersebut dan berkata, ?Wahai pelayan, nyalakan lampunya!? Lalu dinyalakannlah sebuah lampu kecil yang hampir-hampir tidak bisa menerangi ruangan karena cahayanya yang teramat kecil.

Umar melanjutkan perkataanya, ?Sekarang bertanyalah apa yang kamu inginkan." Utusan itu bertanya tentang keadaannya. Umar memberitahukan tentang keadaan dirinya, anak-anaknya, istri, dan keluarganya.

Rupanya utusan itu sangat tertarik dengan perbuatan yang telah dilakukan oleh Umar, mematikan lilin. Dia bertanya, ?Ya Amirul Mukminin, aku melihatmu melakukan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan." Umar menimpali, ?Apa itu??
"Engkau mematikan lilin ketika aku menanyakan tentang keadaanmu dan keluargamu.?

Umar berkata, ?Wahai hamba Allah, lilin yang kumatikan itu adalah harta Allah, harta kaum muslimin. Ketika aku bertanya kepadamu tentang urusan mereka maka lilin itu dinyalakan demi kemaslahatan mereka. Begitu kamu memmebelokkan pembicaraan tentang keluarga dan keadaanku, maka aku pun mematikan lilin milik kaum muslimin."

Subhanallah, benar-benar mengagumkan! Segitu besar kesungguhan Umar dalam menjaga harta kaum muslimin, berbeda dengan mayoritas penguasa yang kita saksikan. (Sirah Umar bin abdul Aziz, Ibnul hakam hal. 155-156) Majalah Elfata.

Sang Pujangga Cinta

Akulah sang pujangga cinta, yang tersiksa karna terdera asmara, untain syair ku rangkai dalam doa, berharap DIA tau aku sedang bermunajah, mengharap lebih dari sekedar cinta, namun lebih dalam dari dalamnya mahabbah, mahabbah seorang hambah yg hina, kepada Tuhan yg Maha Mulia

Tuhan jika bukan karenaMU tiada alasan bagiku untuk mencinta, jika bukan karenaMU pula aku tak ingin di cinta, krn Engkaulah alasan aku mencinta, dan Engkaulah cinta itu.

Tuhanku, aku mengadu padaMU, menyampaikan rindu di kalbu, yg berteriak-teriak memanggil namaMU, mengharap ENGKAU menjawab rinduku, membasuh gersang di kalbu, yang kering oleh kerinduan terhadapMU.

Apa jadinya aku tanpa cintaMU, apa jadinya jika cintaku tak terbalas padaMU, tiada berarti hidupku sungguh, seperti KAU tiada pernah menciptaku.

Husain bin 'Ali Asy Syahid

Syahidnya Al-Husain bin 'Ali bin Abi Thalib
Salam sejahtera bagimu ya Aba `Abdillah al-Husain bin 'Ali (as.)Salam sejahtera bagimu wahai putra Rasulullah (saw.)Salam sejahtera bagimu wahai putra Fatimah az-Zahra )

Pertama-tama marilah kita dengar beberapa sabda Nabi Muhammad saw. tentang Husain "Husainun minni wa ana min Husaini. Ahabballah man ahabba Husaina. Husain sibthun minal asbath. " (Husain adalah bagian dari diriku, dan aku adalah bagian dari diri Husain. Semoga Allah mencintai orang yang mencintai Husain, dan Husain adalah cucu istimewa dari cucu-cucuku".

Hadis lain, "Innal Hasana wal Husain Sayyida syababi Ahlil Jannah",Sungguh Hasan dan Husain adalah dua pemuka pemuda sorga. Ibnu Hajar mencatat dalam kitabnya at-Tahzib riwayat Ummu salamah,: "Suatu hari Hasan dan Husain sedang bermain di rumahku, di hadapan datuknya Rasulullah saw. Tidak lama berselang, malaekat Jibril datang. Dia berkata sambil menunjuk ke arah Husain, "ya Muhammad, kelak ummatmu akan membunuh putramu ini. Mendengar itu Nabi kemudian menangis.

Dipanggilnya Husain dan dipeluknya erat-erat ke dadanya. Kemudian Nabi memanggilku, kata Ummu Salamah, dan memberiku sebongkah tanah. Setelah mencium bongkahan tanah itu, Nabi berkata, "ya Ummu Salamah, di tanah ini ada bau Karbun wa Bala'. Kelak apabila ia berubah menjadi darah, ketahuilah bahwa di saat itu putraku ini
syahid bermandikan darah.'

Lima puluh tahun setelah wafat baginda Rasulullah saw, tepatnya tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriah, tragedi Karbala yang diucapkan oleh Nabi tersebut menjadi kenyataan. la bermula dari keengganan Husain as. untuk memberikan bai'at kepada Yazid bin Mu'awiyah sepeninggal ayahnya.

Kepada al-Walid, gubernur Madinah, Imam Husain berkata, " Ayyuhal Amir! Kami adalah Keluarga Nabi, Tambang Risalah, Tempat Kunjungan para malaekat, dan pusat rahmat Illahi. Karena kamilah maka Allah membuka dan mengakhiri segala sesuatu. Sementara Yazid adalah seorang yang fasik, peminum arak, pembunuh nyawa yang tak berdosa dan terang- terangan melanggar perintah Allah. Orang seumpamaku takkan mungkin akan memberinya bai'at"

Ketika Husain didesak oleh orang-orang Mu.awiyah, terutama oleh Marwan bin Hakam, seorang yang dikatakan oleh Nabi sebagai al-la'in ibnul la'in, dengan nada yang tinggi Husain berkata, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Apabila bai'at ini diberikan kepada Yazid, itu berarti pengkhianatan kepada agama Islam. Bagaimana mungkin ummat ini akan dibiarkan dipimpin oleh orang seperti Yazid." Husain kemudian berkata: 'Wahai musuh Allah! Enyahlah engkau dariku. Kami adalah keluarga Rasulullah. Kebenaran ada pada kami. Dan al-haq pasti keluar dari lisan kami.

Suasana mencekam di kota Madinatur Rasul karena ancaman Yazid atas nyawa Husain menyebabkan Husain berpikir untuk pergi ke kota Mekah. Sebelum pergi, Husain as. berkunjung ke pusara datuknya di tengah malam gulita, sambil berkata: Assalamu 'alaika ya Rasulallah! Anal Husain ibnu Fathimah. Ana Farkhuka wabnu Farkhika. Salam sejahtera kepadamu wahai Rasulallah Aku adalah Husain putranya Fatimah. Aku adalah anakmu dan anak dari putrimu. Aku adalah cucumu yang kau tinggalkan kepada ummatmu. Saksikan lah wahai Nabi Allah bahwa mereka telah menghinaku dan mengabaikan hak-hakku serta tidak memeliharaku. Inilah keluhanku kepadamu hingga kelak aku berjumpa denganmu..."

Kemudian Husain berdiri shalat, ruku' dan sujud sepanjang malamnya di samping pusara kekasihnya Rasulullah saw. Usai shalat Husain berdo'a: Allahumma! Inna hadza qabru nabiyyika Muhammad... Ya Allah! Ini adalah pusara Nabi-Mu Muhammad, sementara aku adalah putra dari putrinya Muhammad. Engkau Mahatahu derita yang apa kini datang kepadaku. Allahumma ya Allah! Sungguh aku cinta pada yang ma'ruf dan benci pada yang munkar. Aku bermohon kepada-Mu ya Dzal Jalali wal Ikram, demi pusara ini dan demi penghuninya, agar Kau pilihkan untukku sesuatu yang di dalamnya Kau redha padaku.""

Menjelang subuh, Husain kemudian meletakkan kepalanya ke pusara Rasulullah saw. Di sana kemudian ia sejenak tertidur. Dalam tidur itu ia melihat Nabi saw datang dengan serombongan malaekat kepadanya. Dipeluknya Husain erat-erat ke dadanya. Diciumnya antara kedua matanya. Kemudian Nabi berkata, "Wahai putraku Husain! Sepertinya sebentar lagi kau akan terbunuh dan tersembelih di sebuah tempat dan bumi karbun wa bala'. Di sana kau dikepung oleh sekumpulan orang dari ummatku, dalam keadaan kau haus dan tidak diberi air minum. Tapi mereka masih mengharapkan syafaatku di hari kiamat. Demi Allah, kelak aku tidak akan memberi mereka syafaat di hari kiamat..."

Setelah kunjungan terakhir ke pusara Rasulullah saw., Husain kemudian berangkat ke kota Mekah bersama seluruh anggota keluarganya. Syaikh Mufid meriwayatkan, di saat Husain meninggalkan kota Mekah, Husain membaca ayat yang ada dalam surah al-Qashas (28) ayat 21, "fa kharaja minha khaifan yataraqqabu, qala rabbi najjini minal qaumidz dzalimin..." (Maka (Musa) keluar dari (kota) itu dengan ketakutan seraya berhati hati. Dia berkata, Ya Tuhanku, selamatkan aku dari kaum yang zalim.)

Husain tiba di kota Mekah pada tangga 13 Sya'ban tahun 60 H. Di sana beliau dan `keluarganya menetap sepanjang bulan Sya'ban, Ramadhan, Syawal dan Dzulkaidah.
Sepanjang empat bulan itu Husain berjumpa dengan sebagian dari sahabat-sahabat
Rasul yang masih hidup tak terkecuali Ibnu 'Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Zubair dan
sebagainya. Kepada mereka Husain sampaikan niatnya untuk tidak memberikan bai'at
sedikitpun kepada Yazid, meskipun untuk itu ia akan berhadapan dengan kekerasan.
Ketika sebagian dari mereka menasehati Husain untuk berdamai saja dengan Yazid,
Husain malah menjawab, "Apakah aku akan berikan bai'at kepada Yazid dan berdamai
dengannya, sementara Nabi saw. telah berkata sesuatu yang jelas tentangnya dan
tentang ayahnya."

Ibnu Umar mendesak Husain agar pulang saja ke kota Madinah untuk menghindari
pertumpahan darah. 'tidak perlu Husain memberikan bai'at, tapi juga jangan
menentang Yazid. Sebab wajah semulia Husain tidak layak ditumpahkan dan mandi
bersimbahkan darah di hadapan Yazid al- mal'un. Tapi Husain menjawab ajakan Ibnu
Umar dengan kata-katanya yang terkenal: .
"Ya Ibnu Umar! Mereka tidak akan membiarkan aku begitu saja. Mereka akan tetap
memaksaku membaiatnya atau membunuhku. Dengarkan baik-baik wahai hamba Allah! Di
antara sebab mengapa dunia ini sangat hina di sisi Allah adalah sebuah tragedy
dimana kepala Nabi Yahya bin Zakaria dipenggal oleh kaumnya dan kemudian ia
dijadikan sebagai hadiah yang diberikan kepada pemimpin mereka yang zalim.

Padahal kepala itu berbicara kepada mereka dan
menyempurnakan hujahnya di hadapan mereka semua. Wahai hamba Allah! Jangan
engkau lari dari membelaku. Ingatlah aku di saat-saat shalatmu. Demi Allah yang
telah membangkitkan datukku Muhammad sebagai Nabi yang bashiran wa nadzira,
seandainya ayahmu Umar bin Khattab hidup di zaman ini, niscaya dia akan
membelaku seperti dia membela datukku. Wahai putra Umar! Apabila engkau tidak
bersedia keluar bersamaku dan berat bagimu ikut bersamaku, maka itu kumaafkan.

Namun jangan lupa untuk mendoakan aku setelah shalat-shalatmu. Jauhi mereka dan
jangan kau berikan bai'at kepada mereka sampailah segala perkara menjadi jelas."
Selama Husain berada di Mekah, ratusan bahkan ribuan surat datang kepadanya dari
arah Kufah, Bashrah dan sekitarnya memintanya segera datang ke sana untuk
dijadikan sebagai Imam mereka dalam menumbangkan kezaliman Yazid.

"Innahu laisa 'alaina Imam. Fa aqbil la'allaha an yajma `ana bika `alal haq",
(Kami tidak punya Imam. Datanglah ke mari. Mudah- mudahan Allah akan
menyatukan kami denganmu di atas jalan kebenaran)" Begitu yang mereka tulis
kepada Imam Husain.

Pada tanggal delapan Dzulhijjah tahun 60 H. Husain meninggalkan kota suci Mekah
menuju Irak. Malam sebelumnya ia sempat berjumpa dengan saudaranya
Muhammad bin al-Hanafiah. Saudaranya ini mengusulkan kepada Husain agar pergi
saja ke tempat lain yang lebih amman, ke Yaman misalnya. Namun Husain meminta
waktu untuk memikirkannya. Pada pagi harinya ketika ia berjumpa kembali dengan
Husain, Muhammad al- Hanafiah menuntut janji jawaban Husain. Husain kemudian
berkata, "Wahai saudaraku! Setelah kita berpisah tadi malam, aku berjumpa dengan
datukku Muhammad saw. Katanya, "ya Husain ukhruj,fainnallaha qad syaa an yaraka
qatilan" (ya Husain! Keluarlah, sebab Allah telah menghendaki melihatmu terbunuh
(di jalan-Nya). "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un..." Gumam Hanafiah.

Hari kesepuluh dari bulan Muharram tahun 61 Hijriah, adalah hari yang paling
menyedihkan bagi keluarga Nabi saw. Betapa tidak. Di hari itu pasukan Husain
yang berjumlah lebih kurang 78 orang telah dihadang oleh tak kurang dari 30,000
pasukan yang berkuda dan bersenjata lengkap untuk siap membantainya dan menawan
putra-putrinya.Di sisi lain, air sungai Furat yang terbentang panjang dan
menghidupi makhluk- makhluk padang Karbala, hatta anjing sekalipun, pada hari
itu diharamkan bagi putra-putri Nabi yang suci ini. Sejak pagi Asyura Imam
Husain berupaya menyadarkan mereka untuk tidak memerangi keluarga Nabi ini. Dia
berusaha maksimal untuk menghentikan petumpahan darah yang akan berakibat fatal
bagi kehidupan mereka setelahnya. Sampai-sampai Husain berteriak lantang,
"Ayyuhan nas! Dengarlah kata-kataku, dan jangan kalian terburu-buru ingin
memerangiku hingga aku bisa memberi kalian nasehat yang mana kalian berhak untuk
mendengarnya. Lihatlah siapa diriku dan diri kalian.

Sadarlah dan perhatikan baik-baik kedudukan aku di sisi kalian. Apakah kalian
boleh membunuhku dan menginjak-injak keluargaku. Bukankah aku adalah putra dari
putri Nabi kalian, dan putra washinya, orang pertama yang beriman kepada
Nabi-Nya? Bukankah Hamzah, penghulu para syuhada adalah pamanku? Bukankah Ja'far
at-Thayyar, yang memiliki dua sayap di syurga kelak adalah pamanku? Bukankah
kalian pernah mendengar sabda Nabi tentangku dan saudaraku Hasan bahwa dua putra
ini adalah pemuka pemuda syurga?"

Kata-kata Husain tidak banyak mengusik hati mereka yang telah beku. Tapi Husain
terus berupaya maksimal untuk menyentuh hari nurani mereka. Sampai beliau
berkata secara emosional, "Ayyuhan Nas, ama min mughitsin yughitsu `anna...,
apakah masih ada orang yang mau membela kami keluarga Rasul. Apakah masih ada
orang yang mau menolong kami sebagai keluarga Rasul? Apakah salah kami? Apakah
dosa anak-anak dan wanita kami sehingga kalian haramkan mereka dari air Furat
itu?

Kata-kata Husain terakhir tiba-tiba mengusik perasaan al-Hur bin Yazid
ar-Riyahi, salah seorang dari pimpinan pasukan Umar bin Sa'ad. Sejenak ia mundur
dan mencari tempat yang tepat, akhirnya ia menyebat kudanya untuk bergabung
bersama Husain. Al-Hur dengan suara yang penuh sesal berkata, "Wahai putra
Rasulullah, apakah masih ada kesempatan bagiku untuk bertaubat? Kumohon maafmu
ya Husain, karena telah menakut-nakuti hati para kekasih Allah dan putra-putri
Nabi Allah" "Na'am.

Taballahu `alaika. Semoga Allah menerima taubatmu ya Hur. Kata Husain, "Anta
hurrun kama waladatka ummuka hurra. Khawatir sahabat-sahabat lain menyusul Hur,
tiba-tiba Umar bin Sa'ad, pimpinan pasukan musuh melesatkan anak panahnya ke
arah Husain sebagai tanda dimulainya perang. Sambil berteriak Umar berkata:
"Saksikan di hadapan Amir bahwa aku adalah orang pertama yang melemparkan anak
panahnya kepada Husain." Dan berikutnya ribuan anak panah dilesatkan ke arah
Husain, keluarganya dan sahabat- sahabatnya.

Peperangan yang tidak seimbangpun berkobar. Sahabat Husain satu demi satu maju
dan kemudian gugur, disusul pula oleh keluargnya. Orang pertama adalah putranya
yang emama Ali al-Akbar, seorang anak remaja yang mempunyai wajah yang
betul-betul mirip dengan wajah datuknya Rasulullah saw.

Melihat putranya ini Husain terisak menangis. Dipeluknya erat-erat putra
kesayangannya ini. Sambil mengangkat janggutnya yang telah memutih, Husain
berdo'a, "ya Allah, saksikanlah betapa tega dan kejamnya kaum ini. Muncul di
hadapan mereka seorang yang mempunyai wajah, sifat dan kata-kata yang
sangat mirip dengan Rasul-Mu Muhammad. Bahkan ketika kami rindu kepada Rasul-Mu,
kami akan memandangi wajah anak ini. Ya Allah, haramkan bagi mereka keberkahan
perut bumi ini. Porak- porandakan mereka. Mereka telah mengundang kami dan
berjanji untuk membela kami, tiba-tiba mereka jugalah yang memusuhi kami dan
memerangi kami."

Ali al-Akbar maju ke medan perang dengan sangat tangkas sehingga mengingatkan
orang akan keperkasaan datuknya Ali bin Abi Thalib as. Riwayat berkata,
setelah lebih dari seratus orang tewas di tangannya, Ali kembali ke kemah
ayahnya dengan luka-luka yang cukup banyak. Dia berkata, "Ya abatah, (duhai
ayahanda yang mulia), haus, haus. Rasa haus benar-benar telah mencekikku
sehingga terasa benar beratnya besi ini.Adakah sedikit air yang bisa memberiku
sedikit tenaga?'

Husain memeluk erat putra kesayangannya ini. Sebentar kemudian dia julurkan
lidahnya yang suci ke mulut anaknya yang suci. "Demi Allah, lidah Husain
sendiri lebih kering dari ranting-ranting yang kering hadapan yang ada di padang
Karbala." Husain berkata, "Sebentar lagi kau pasti akan berjumpa dengan datukmu
Muhammad yang tengah menunggumu dengan segelas air dari telaga al-kautsar.
Bersabarlah wahai putraku, bersabarlah..."

Ali al-Akbar kembali ke medan perang. Gerak- geriknya diperhatikan oleh ayahnya
yang sudah mulai tua itu. Tak lama berselang, tiba-tiba Husain menyaksikan
bagaimana anak yang masih muda ini ditikam oleh musuh-musuhnya dari berbagai
arah. Ada yang memukul kepalanya, menusuk dadanya, menikam perutnya, bahkan ada
yang melemparkan anak panahnya sehingga jatuh persis ke lehemya. Ali al-Akbar
sempat berteriak memanggil-manggil ayahnya," ya abatah (duhai ayah)'alaika
minnis salam. Kini kusaksikan datukku Rasulullah saw, mengucapkan salam kepadamu
dan memintamu agar segera datang menemuinya..."

Husain mendatangi putranya ini sambil mengibas-ngibaskan pedangnya ke setiap
orang yang menghalanginya. Husain memeluk wajah Akbar yang bersimbahkan darah
suci. Husain berkata, "qatalallahu qauman qataluka ya bunayya..., semoga Allah
membunuh suatu kaum yang telah membunuhmu wahai putraku. Alangkah beraninya
mereka terhadap Allah; dan alangkah nekatnya mereka menganiaya keluarga
Rasulullah Sungguh, wahai putraku, apalah artinya dunia ini bagiku setelah
kepergianmu..."

Kini giliran Husain, tapi sebelum itu dia minta dibawakan bayinya Ali ar-Radhi'.
Maksud Husain adalah ingin mencium dan memeluk sebagai pertemuan terakhirnya.
Sambil memegang bayi yang tak berdosa ini, Husain terus berteriak: Apakah masih
ada orang bertauhid yang masih takut kepada Allah. Apakah masih ada orang yang
mau menolong kami. Apakah masih ada orang yang mau membela keluarga Rasulullah.

Tengah Husain memeluk dan ingin mengecup anak yang suci ini, tiba- tiba Harmalah
bin Kahil melesatkan anak panahnya ke arah leher Ali ar- Radhi'. Demi Allah,
anak panah itu menembus lehemya. Pekikan suara Ali ar-Radhi' sangat menyayat
hati. Husain menggeleng-gelengkan kepalanya seperti tak percaya betapa kejamnya
manusia- manusia durjana itu.

Kini Husain benar-benar sendirian. Seluruh keluarga dan sahabatnya gugur syahid
satu persatu di hadapannya. Dia berdiri sendirian di kemahnya yang
semakin kosong. la bergumam menyebut-nyebut kebesaran Asma' Allah. Sekali-sekali
Husain melihat kemah putri-putrinya, kemudian ia menatap kembali lautan musuh
yang tengah menanti untuk menyergapnya. Akhimya Husein melangkahkan kakinya
mendatangi kemah wanita untuk melihat putri-putri Fatimah az-Zahra' as. Suara
Husain kini tidak lagi lantang. Air matanya sudah terkuras habis. Dadanya sesak
menahan napas panjang. Kerongkongannya kering dan panas. Dengan suaranya yang
parau dan terbata- bata, dia memanggil satu persatu putri-putri Fatimah
az-Zahra':

" Assalamu alaiki ya Sakinah! Terimalah salamku wahai Sakinah." " Assalamu
alaiki ya Fatimah! Terimalah salamku wahai Fatimah:' " Assalamu Alaiki ya
Zainab! Terimalah salamku wahai Zainab." " Assalamu Alaiki ya Ummu Kalthum!
Terimalah salamku wahai Ummu Kalthum."

Sakinah yang kecil memeluk erat tubuh ayahnya yang kini kesendirian itu. "Ya
abatah. Ayah! Apakah salammu ini pertanda bahwa kau akan pergi meninggal kan
kami? Apakah ini pertanda perpisahanmu dengan kami?" Husain merangkul putrinya
yang mungil ini sambil berbisik: " Wahai putriku Sakinah! Apakah mungkin maut
tidak menjemput orang yang tidak ada pembela dan kesendirian ini. Bersabarlah
putriku! Usaplah air matamu. Bersabarlah, kau akan lebih banyak lagi menangis
setelah kematianku.Tolong jangan kau bakar hati ini sebelum ruhku meninggalkan
badan ini. Kelak setelah aku gugur, menangislah putriku dan menangislah!" Husein
memeluk satu persatu putri-putrinya yang tidak berdosa. Juga adik-adik wanitanya
yang bersamanya di Karbala, Zainab dan Ummu Kaltsum. Kemudian dia datang memeluk
Ali Zainal Abidin yang sedang berbaring lantaran sakit keras.

Mas'udi dalam kitabnya Ithbat al-Washiyyah meriwayatkan, Husain kemudian
berwasiat kepada putranya yang sedang sakit ini al-Ism al- A'zam
dan peninggalan-peninggalan waris para Nabi. Kemudian Husain juga menyampaikan
bahwa ia telah menitipkan ilmu-ilmu, kitab-kitab, mushaf-mushaf dan senjata
warisan kepada Ummu Salamah r.a.

Usai pamit dengan keluarganya tercinta, Husain kemudian menunggang kudanya yang
membawanya berhadapan dengan musuh-musuhnya yang berjumlah lebih dari tiga puluh
ribu serdadu. Husain masih berupaya untuk menyadarkan mereka dan menyelamatkan
mereka dari kesesatan. Husain masih tetap ingin meyempurnakan hujjahnya kepada
orang- orang yang sepertinya sudah ditutupkan oleh Allah hatinya. Tapi hati
mereka tak bergeming.

Tiba-tiba Umar bin Sa' ad berteriak: "Celaka kalian! Tahukah kalian dengan siapa
kalian berperang? Inilah putra singa orang-orang Arab. Inilah putra Ali bin Abi
Thalib. Serang dia dari berbagai sisi."

Perintah Umar bin Sa' ad kemudian diikuti dengan lemparan empat ribu anak panah
yang dilesatkan untuk menembak Husain. Dengan gagahnya Husain tetap berdiri
kokoh, walaupun sebagian anak panah mengenai badannya yang mulia. "Kalian
mengancamku dengan maut; kalian menakut-nakuti aku dengan anak panah. Demi Allah
mati adalah lebih mulia ketimbang harus tunduk pada kezaliman. Syahid di jalan
Allah lebih mulia ketimbang tunduk pada kehinaan. Husain berkata Mati lebih
utama ketimbang melakukan keaiban dan lebih utama daripada masuk ke dalam api
neraka akulah Husain putra Ali tidak pemah mundur dalam membela kebenaran. Aku
akan pertahankan keluarga ayahku. Kukan teruskan berjalan di atas agama sang
Nabi.

Peperangan yang tak seimbang antara Husain dengan pasukan Umar bin Sa' ad sudah
tak terelakkan lagi. Tidak sedikit dari kalangan pasukan Ibnu Sa' ad
yang tewas di tangan Husain. Dalam keadaan letih dan haus yang amat sangat,
Husain kemudian duduk ingin sejenak beristirahat. Riwayat berkata, tiba-tiba
Abul Hatuf membidikkan panahnya yang kemudian jatuh persis mengenai dahinya
Husain. Dengan tangannya yang mulai putranya lemah, Husain berupaya mencabut
anak panah itu perlahan-lahan. Dahi Husain yang sering digunakannya untuk
bersimpuh sujud di hadapan al- Khaliq, kini menyemprotkan darah suci dan segar
tentang pada pasir Karbala.

Wajah Husain berubah merah. Janggutnya yang putih kemilau kini bermandikan
darahnya yang segar. Husain berkata: Ya Allah! Engkau saksikan sendiri apa yang
dilakukan oleh hamba- hambaMu yang durhaka ini terhadapku. Ya Allah, hancurkan
mereka, habisi mereka, dan jangan Kausisakan satupun dari mereka di atas muka
bumi ini, dan jangan juga Kauampuni mereka.
Husain kemudian berdiri lagi meneruskan perlawanan nya sampai kemudian dia
merasa keletihan lagi.

Sejenak ia beristirahat, tiba-tiba sebuah batu besar dilemparkan ke arah dahinya
dan persis mengenai lukanya. Darahnya yang suci kini lebih banyak mengalir
membasahi seluruh tubuhnya. Husain meringis kesakitan. Luka-luka yang mengenai
tubuhnya membuat nya tak berdaya. Imam Husain kemudian mengangkat tangannya
untuk mengambil ujung bajunya guna mengusap darah yang mengalir di dahinya.
Tiba-tiba sebatang anak panah beracun yang bermata tiga
dibidikkan persis ke arah dadanya. Dada Husain luka. Jantung Husain robek. Anak
panah tembus sampai ke belakang Husain. Husain menundukkan kepalanya sambil
memegahg-megang dadanya yang memancurkan darah segar Nabi yang mulia.

Dengan suara yang terbatah-batah Husain berdo' a:
Dengan Asma' Allah dengan bantuan Allahdan di atas agama Rasulullah Ilahi,
Engkau Mahatahu bahwa mereka telah membunuh satu-satunya putra NabiMu yang masih
ada di atas muka bumi ini. Husain kemudian mencabut anak panah itu dari
belakangnya, yang kemudian memuntahkan darah segar nan suci. Perawi berkata,
Husain kemudian menampung darah-darahnya itu dengan kedua tangannya, lalu
dilemparkan ke arah langit. Demi Allah! Tidak setetespun dari darah itu kemudian
kembali ke bumi.

Kemudian Husain menampung lagi darah yang masih mengalir deras dengan kedua
tangannya. Kemudian ia usap-usapkan ke wajahnya, janggutnya, dan tubuhnya
sambil berkata: Seperti inilah aku akan bertemu dengan datukku Rasulullah saw
dalam keadaan badan ini bersimbah darah Kelak akan kukatakan kepadanya bahwa
yang membunuhku adalah Fulan bin Fulan. Melihat Husain tergeletak lemah, Umar
bin Sa' ad berteriak, "Turun kalian dan penggal lehemya..." Maka turunlah
sebagian makhluk-makhluk durjana itu untuk menghina Husain.

Sebagian memukuli amamah atau sorban Husain sampai kepalanya luka; sebagian
menusukkan pedangnya ke perut Husain; sebagian yang lain menyabetkan pedangnya
ke punggung Husain. Sedemikian buruk perlakuan mereka kepada Husain yang sudah
jatuh lemah itu, sampai Imam Baqir as. berkata, "Hatta kepada anjingpun, mereka
dilarang memperlakukannya seumpama itu. Husain telah ditusuk dengan pedang,
dipukul dengan tombak, dilempar dengan batu, dipukul dengan kayu dan tongkat;
bahkan dinjak- injak dengan kuda..."

Tidak sekedar itu. Jiwa iblis Umar bin Sa' ad masih belum puas. Dendam Ibnu
Ziyad terhadap Husain masih belum tuntas. Meskipun Husain kini telah tergeletak
layu bersimbah darah, dalam keadaan badan nyaris tidak lagi bemyawa, mereka
kobarkan api permusuhan sedalam-dalamnya terhadap Husain. Umar bin Sa'ad
memerintahkan orangnya untuk turun menghabisi Husain. Shimir dan Sinan bin Anas
turun dari kudanya. Melihat mereka Husain masih terengah-engah meminta air.
"Sungguh, aku haus, aku Husain haus!" Kata Husain. Syimir kemudian menendang
dengan sepatunya yang keras. Dengan suaranya yang keras dia berkata, "Wahai
putra Abu Turab! Bukankah engkau
berkata bahwa ayahmu akan memberi air di telaga al-kautsar kepada orang yang
dicintainya. Mintalah dari ayahmu...!"

Syimir kemudian duduk di dada Husain. Dia pegang janggut Husain yang sudah
bermandikan darah. Dengan senyum Husain berkata kepada Syimir, "Apakah
engkau tidak kenal aku dan akan membunuhku?" Syimir menjawab, "Ya, Aku
mengenalmu dengan baik. Ibumu Fatimah az- Zahra'; ayahmu Ali al-Murtadha, dan
datukmu Muhammad al-Mustafa, pembelamu adalah Allah Ta'ala. Aku tidak perduli
semua itu..."

Dalam sebuah riwayat, Syimir berusaha memenggal leher Husain dari arah depan.
Namun dia gagal. Kemudian dia membalik Husain dengan sangat kasar dan menebaskan
pedangnya dari arah belakang Husain..."
setiap kali urat leher Husain terpotong, Husain berteriak, "Wa abatah, wa ummah,
wa jaddah, wa 'aliyyah (duhai ayah, duhai ibu az- Zahra', duhai
datukku Mustafa dan duha ayahku Ali..."

Riwayat berikutnya kemudian berkata, "Mereka kemudian turun beramai-ramai dari
kudanya untuk merampas setiap barang yang ada di tubuh Husain yang mulia. Bahar
bin Ka'ab melucuti celana Husain; Akhnas bin Marthad menarik sorban. Husain;
Aswad bin Khalid merampas sandal Husain; Umar bin Sa' ad mengambil baju perang
Husain; Jami' bin al-Khalq merebut pedang Husain. Yang lebih tragis lagi, Bajdal
bin Sulaim mengambil cincin Husain. Kata perawi, semula Bajdal mencoba keras
menarik-narik cincin Husain. Tapi dia tidak berhasil. Kemudian dia mengambil
jalan pintas. Dihunuskan pedangnya ke arah jari-jari Husain, dan . karena
sepotong cincin, ia potong jari Husain.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un...
Kecintaan terhadap Husain menembus mahdzab manapun, suni ataupun Syi'ah, tiada satupun
yang tidak mencintainya.
posted by mevlanasufi at 3:18 AM

Cinta bersama yang dicintai

Setiap Orang akan Bersama dengan Orang yang Dicintainya
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans (Book Two)


Hari ini kita berbicara tentang cinta kepada Allah dan Rasulullah saw.
Grandsyaikh Abdullah Fa’iz ad-Daghestani menyampaikan sebuah Hadits yang mengatakan bahwa suatu hari Rasulullah saw sedang memberikan ceramah, tiba-tiba seorang Baduy mendatangi pintu masjid dan berkata, “Wahai Rasul, kapan Hari Akhir itu tiba?” Rasulullah saw tidak menjawabnya sehingga dia bertanya lagi, tetapi pertanyaan kedua pun tidak dijawab. Rasulullah saw menunggu Allah swt untuk memberikan jawaban karena hanya Allah yang mengetahui kapan Hari Akhir itu tiba. Kemudian malaikat Jibril as mendatangi beliau dan berkata, “Tanyakan kepadanya apa yang telah dipersiapkannya untuk Hari Akhir.” Orang itu menjawab, “Muhammad saw, Aku mencintaimu dan Aku mencintai Tuhanmu, tidak ada lagi yang lain, hanya itu.”

Kemudian Jibril as berkata kepada Rasulullah saw, “Katakan kepadanya bahwa dia akan bersamamu dan bersama Allah seperti dua jari yang bersama. Setiap orang akan berkumpul bersama orang-orang yang dicintainya di Hari Akhir.” Ketika mendengar ini Abu Bakar ra bertanya, “Ya Rasulullah saw, apakah tidak diperlukan suatu perbuatan tertentu, apakah cinta saja cukup?” Beliau menjawab, “Tidak, wahai Abu Bakar ra, tidak ada persyaratan untuk melakukan perbuatan tertentu, yang paling penting adalah cinta. Setiap orang akan berkumpul bersama orang-orang yang dicintainya.”

Jika seseorang dikuasai egonya dan perbuatannya sangat jahat, tetapi dia mencintai orang yang shaleh, dan tidak mencintai orang-orang jahat atau kejahatannya sendiri, maka dia akan mendapat manfaat melalui cintanya itu. Ketika Abu Bakar ra mendengar jawaban ini, beliau shalat dua rakaat sebagai tanda bersyukur kepada Allah swt dan berkata, “Ya Rasulullah saw, Aku tidak pernah mendengar kabar gembira sebagus ini.” Lihatlah pada kerendahan hati Abu Bakar ra, tak seorang pun dapat mencapai maqamnya. “Sampai sekarang hatiku masih terikat dan tidak bisa kulepaskan. Sekarang haditsmu yang melepaskannya. Aku merasa puas, hatiku sangat tentram. Dalam hidup ini Aku merasa tidak sabar tanpa kehadiranmu. Aku berpikir, jika ada suatu perbuatan yang menjadi persyaratan agar bisa bersamamu di Surga, bagaimana Aku bisa bersamamu? Perbuatan apa yang bisa menandingi apa yang telah kau lakukan?” Dan apa perbuatan kita yang bisa menandingi perbuatan Abu Bakar ? Oleh sebab itu Rasulullah saw telah memberikan kata-kata yang manis kepada orang-orang. Dalam Islam tidak ada hal yang lebih tinggi daripada Cinta.

Langkah pertama bagi kita adalah berseru kepada orang-orang agar mencintai Tuhan kita. Dalam hal ini kita dapat bertemu setiap orang dari berbagai agama, setiap orang yang mempunyai keyakinan terhadap Allah. Jika pertemuan di sini cukup, maka persetujuan dapat menyusul secara bertahap. Yang kedua kita katakan bahwa Allah memerintahkan kita untuk mencintai semua orang baik secara umum. Secara individu, kita tidak bisa memaksakan seseorang agar saling menyukai satu sama lain, tetapi dia harus setuju terhadap prinsip untuk mencintai semua orang yang baik. Kebenaran selalu di atas, yang salah selalu terbenam dalam kegelapan.

Takut Berbicara Salah

Kisah Wanita yang Selalu Berbicara dengan Al-Qur'an oleh: DHB Wicaksono

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah,
Wa'ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba'du...
Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullahu Ta'ala :
Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al-Haram, lalu berziarah ke makam
Rasulullah sallAllahu 'alayhi wasallam. Ketika saya berada disuatu sudut jalan,
tiba-tiba saya melihat sesosok tubuh berpakaian yang dibuat dari bulu. Ia adalah
seorang ibu yang sudah tua. Saya berhenti sejenak seraya mengucapkan salam
untuknya. Terjadilah dialog dengannya beberapa saat.
Dalam dialog tersebut wanita tua itu , setiap kali menjawab pertanyaan Abdulah
bin Mubarak, dijawab dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an. Walaupun jawabannya
tidak tepat sekali, akan tetapi cukup memuaskan, karena tidak terlepas dari
konteks pertanyaan yang diajukan kepadanya.
Abdullah : "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh."
Wanita tua :
"Salaamun qoulan min robbi rohiim." (QS. Yaasin : 58)
("Salam sebagai ucapan dari Tuhan maha kasih")
Abdullah : "Semoga Allah merahmati anda, mengapa anda berada di tempat ini?"
Wanita tua :
"Wa man yudhlilillahu fa la hadiyalahu." (QS : Al-A'raf : 186 )
("Barang siapa disesatkan Allah, maka tiada petunjuk baginya")
Dengan jawaban ini, maka tahulah saya, bahwa ia tersesat jalan.
Abdullah : "Kemana anda hendak pergi?"
Wanita tua :
"Subhanalladzi asra bi 'abdihi lailan minal masjidil haraami ilal masjidil
aqsa." (QS. Al-Isra' : 1)
("Maha suci Allah yang telah menjalankan hambanya di waktu malam dari masjid
haram ke masjid aqsa")
Dengan jawaban ini saya jadi mengerti bahwa ia sedang mengerjakan haji dan
hendak menuju ke masjidil Aqsa.
Abdullah : "Sudah berapa lama anda berada di sini?"
Wanita tua :
"Tsalatsa layaalin sawiyya" (QS. Maryam : 10)
("Selama tiga malam dalam keadaan sehat")
Abdullah : "Apa yang anda makan selama dalam perjalanan?"
Wanita tua :
"Huwa yut'imuni wa yasqiin." (QS. As-syu'ara' : 79)
("Dialah pemberi aku makan dan minum")
Abdullah : "Dengan apa anda melakukan wudhu?"
Wanita tua :
"Fa in lam tajidu maa-an fatayammamu sha'idan thoyyiban" (QS. Al-Maidah : 6)
("Bila tidak ada air bertayamum dengan tanah yang bersih")
Abdulah : "Saya mempunyai sedikit makanan, apakah anda mau menikmatinya?"
Wanita tua :
"Tsumma atimmus shiyaama ilallaiil." (QS. Al-Baqarah : 187)
("Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam")
Abdullah : "Sekarang bukan bulan Ramadhan, mengapa anda berpuasa?"
Wanita tua :
"Wa man tathawwa'a khairon fa innallaaha syaakirun 'aliim." (QS. Al-Baqarah :
158)
("Barang siapa melakukan sunnah lebih baik")
Abdullah : "Bukankah diperbolehkan berbuka ketika musafir?"
Wanita tua :
"Wa an tashuumuu khoirun lakum in kuntum ta'lamuun." (QS. Al-Baqarah : 184)
("Dan jika kamu puasa itu lebih utama, jika kamu mengetahui")
Abdullah : "Mengapa anda tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan saya?"
Wanita tua :
"Maa yalfidhu min qoulin illa ladaihi roqiibun 'atiid." (QS. Qaf : 18)
("Tiada satu ucapan yang diucapkan, kecuali padanya ada Raqib Atid")
Abdullah : "Anda termasuk jenis manusia yang manakah, hingga bersikap seperti
itu?"
Wanita tua :
"Wa la taqfu ma laisa bihi ilmun. Inna sam'a wal bashoro wal fuaada, kullu
ulaaika kaana 'anhu mas'ula." (QS. Al-Isra' : 36)
("Jangan kamu ikuti apa yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan
dan hati, semua akan dipertanggung jawabkan")
Abdullah : "Saya telah berbuat salah, maafkan saya."
Wanita tua :
"Laa tastriiba 'alaikumul yauum, yaghfirullahu lakum." (QS.Yusuf : 92)
("Pada hari ini tidak ada cercaan untuk kamu, Allah telah mengampuni kamu")
Abdullah : "Bolehkah saya mengangkatmu untuk naik ke atas untaku ini untuk
melanjutkan perjalanan, karena anda akan menjumpai kafilah yang di depan."
Wanita tua :
"Wa maa taf'alu min khoirin ya'lamhullah." (QS Al-Baqoroh : 197)
("Barang siapa mengerjakan suatu kebaikan, Allah mengetahuinya")
Lalu wanita tua ini berpaling dari untaku, sambil berkata :
Wanita tua :

"Qul lil mu'miniina yaghdudhu min abshoorihim." (QS. An-Nur : 30)
("Katakanlah pada orang-orang mukminin tundukkan pandangan mereka")
Maka saya pun memejamkan pandangan saya, sambil mempersilahkan ia mengendarai
untaku. Tetapi tiba-tiba terdengar sobekan pakaiannya, karena unta itu terlalu
tinggi baginya. Wanita itu berucap :
Wanita tua :
"Wa maa ashobakum min mushibatin fa bimaa kasabat aidiikum." (QS. Asy-Syura' 30)
("Apa saja yang menimpa kamu disebabkan perbuatanmu sendiri")
Abdullah : "Sabarlah sebentar, saya akan mengikatnya terlebih dahulu."
Wanita tua :
"Fa fahhamnaaha sulaiman." (QS. Anbiya' 79)
("Maka kami telah memberi pemahaman pada nabi Sulaiman")
Selesai mengikat unta itu sayapun mempersilahkan wanita tua itu naik.
Abdullah : "Silahkan naik sekarang."
Wanita tua :
"Subhaanalladzi sakhkhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqriniin, wa inna ila
robbinaa munqolibuun." (QS. Az-Zukhruf : 13-14)
("Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini pada kami sebelumnya tidak
mampu menguasainya. Sesungguhnya kami akan kembali pada tuhan kami")
Sayapun segera memegang tali unta itu dan melarikannya dengan sangat kencang.
Wanita itu berkata :
Wanita tua :
"Waqshid fi masyika waghdud min shoutik" (QS. Lukman : 19)
("Sederhanakan jalanmu dan lunakkanlah suaramu")
Lalu jalannya unta itu saya perlambat, sambil mendendangkan beberapa syair,
Wanita tua itu berucap :
Wanita tua :
"Faqraa-u maa tayassara minal qur'aan" (QS. Al- Muzammil : 20)
("Bacalah apa-apa yang mudah dari Al-Qur'an")
Abdullah : "Sungguh anda telah diberi kebaikan yang banyak."
Wanita tua :
"Wa maa yadzdzakkaru illa uulul albaab." (QS Al-Baqoroh : 269)
("Dan tidaklah mengingat Allah itu kecuali orang yang berilmu")
Dalam perjalanan itu saya bertanya kepadanya.
Abdullah : "Apakah anda mempunyai suami?"
Wanita tua :
"Laa tas-alu 'an asy ya-a in tubda lakum tasu'kum" (QS. Al-Maidah : 101)
("Jangan kamu menanyakan sesuatu, jika itu akan menyusahkanmu")
Ketika berjumpa dengan kafilah di depan kami, saya bertanya kepadanya.
Abdullah : "Adakah orang anda berada dalam kafilah itu?"
Wanita tua :
"Al-maalu wal banuuna zinatul hayatid dunya." (QS. Al-Kahfi : 46)
("Adapun harta dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia")
Baru saya mengerti bahwa ia juga mempunyai anak.
Abdullah : "Bagaimana keadaan mereka dalam perjalanan ini?"
Wanita tua :
"Wa alaamatin wabin najmi hum yahtaduun" (QS. An-Nahl : 16)
("Dengan tanda bintang-bintang mereka mengetahui petunjuk")
Dari jawaban ini dapat saya fahami bahwa mereka datang mengerjakan ibadah haji
mengikuti beberapa petunjuk. Kemudian bersama wanita tua ini saya menuju
perkemahan.
Abdullah : "Adakah orang yang akan kenal atau keluarga dalam kemah ini?"
Wanita tua :
"Wattakhodzallahu ibrohima khalilan" (QS. An-Nisa' : 125)
("Kami jadikan ibrahim itu sebagai yang dikasihi")
"Wakallamahu musa takliima" (QS. An-Nisa' : 146)
("Dan Allah berkata-kata kepada Musa")
"Ya yahya khudil kitaaba biquwwah" (QS. Maryam : 12)
("Wahai Yahya pelajarilah alkitab itu sungguh-sungguh")
Lalu saya memanggil nama-nama, ya Ibrahim, ya Musa, ya Yahya, maka keluarlah
anak-anak muda yang bernama tersebut. Wajah mereka tampan dan ceria, seperti
bulan yang baru muncul. Setelah tiga anak ini datang dan duduk dengan tenang
maka berkatalah wanita itu.
Wanita tua :
"Fab'atsu ahadaku bi warikikum hadzihi ilal madiinati falyandzur ayyuha azkaa
tho'aaman fal ya'tikum bi rizkin minhu." (QS. Al-Kahfi : 19)
("Maka suruhlah salah seorang dari kamu pergi ke kota dengan membawa uang perak
ini, dan carilah makanan yang lebih baik agar ia membawa makanan itu untukmu")
Maka salah seorang dari tiga anak ini pergi untuk membeli makanan, lalu
menghidangkan di hadapanku, lalu perempuan tua itu berkata :
Wanita tua :
"Kuluu wasyrobuu hanii'an bima aslaftum fil ayyamil kholiyah" (QS. Al-Haqqah :
24)
("Makan dan minumlah kamu dengan sedap, sebab amal-amal yang telah kamu kerjakan
di hari-hari yang telah lalu")
Abdullah : "Makanlah kalian semuanya makanan ini. Aku belum akan memakannya
sebelum kalian mengatakan padaku siapakah perempuan ini sebenarnya."
Ketiga anak muda ini secara serempak berkata :

"Beliau adalah orang tua kami. Selama empat puluh tahun beliau hanya berbicara
mempergunakan ayat-ayat Al-Qur'an, karena kuatir salah bicara."
Maha suci zat yang maha kuasa terhadap sesuatu yang dikehendakinya. Akhirnya
saya pun berucap :
"Fadhluhu yu'tihi man yasyaa' Wallaahu dzul fadhlil adhiim." (QS. Al-Hadid : 21)
("Karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya, Allah adalah
pemberi karunia yang besar")
[Diambil dari kitab Misi Suci Para Sufi, Sayyid Abubakar bin Muhammad Syatha,
hal. 161-168]